Kajian KIAMAT menurut ilmu ASTRONOMI

Posted: March 14, 2011 in saintis islam

Kapan Kiamat Terjadi?

Kiamat adalah salah satu misteri ilahi yang terjaga kerahasiaannya. Dan saya yakin sampai sekarangpun tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditemukan dalam prespektif (pandangan) manapun.

Kembali pada pembahasan kitab-kitab tafsir dengan menganalisa pernyataan Sayyidina Abu Bakar Siddiq Ra. dalam mafatihul Ghaib dalam surah al-Baqarah itu dikatakan bahwa, di antara ilmu Allah itu ada ilmu yang diberikan kepada semua manusia, sehingga semua manusia tahu tentang ilmu Allah itu. Kemudian ada ilmu Allah yang diberikan hanya pada orang-orang Khawwas (ahli ma’rifat), sehingga kita tidak bisa mengetahuinya. Dan diantara ilmu Allah ada yang hanya diberikan pada para Nabi, sehingga kalangan awam dan khawwas pun tidak bisa mengetahuinya. Bagian terakhir (the last sharing) dari pembahasan Ilmu Allah itu ada ilmu yang ketiga golongan itu tidak diketahui sama sekali oleh mereka, kecuali Allah.

Dari sharing (pembagian) di atas, masalah kiamat ternyata masuk pada bagian yang terakhir (last sharing) yang para nabipun tidak mengetahuinya. Seperti hadist.

bainama nahnu juluusun ‘inda Rasulillahi itthola’a alaina rajulun sadidul bayadhis siyab sawaadus sa’ar layura alaihi atsarus safar la ya’rifu ahadun minna hatta yajlisa ilan nabi, ila akhirihi… ,

Sampai pada akhirnya ditanyakan sa’ah itu, jawabnya ma mas’ulun anhu bih a’lama minas saail? Ada deretan ayat yang tidak diketahui oleh manusia diantaranya dalam surat al-A’raf ayat 187:

yasalunaka anis sa’ah ayyana mursaaha, qul innama ‘ilmuha ‘inda rabbi layujalliha li waqtiha illa huwa, tsaqulat fissamawati wal ardi lata’tikum illa baghtatan, yasalunaka ka annaka hafiyyun anha qul innama ilmuha indallah walakinna aktsaranaasi laya’lamuun.

لا تأتيكم إلا بغتة يسألونك كأنك حفي عنها لا يجليها لوقتها إلا هو ثقلت في السماوات والأرض يسئلونك عن الساعة أيان مرساها قل إنما علمها عند ربي

Dalam ayat di atas secara tegas dikatakan bahwa kiamat itu adalah suatu persoalan yang ilmunya hanya dimiliki Allah, yang sedikitpun Allah tidak menampakkan pada manusia, layujalliha ditafsiri la yudzhiruha li waqtiha ai fi waqtiha illa huwa. Jadi tidak diberi tahukan waktu kapan kiamat itu terjadi, termasuk dalam ayat-ayat lain yang tadi disebutkan.

Nah, akan tetapi dibalik itu ada ilmu kiamat yang diberitahukan pada manusia, yang tidak diberitahukan pada manusia itu hanya ilmu tentang kapan kiamat itu terjadi, dan itu tidak mungkin terjadi diketahui oleh manusia.

Kalau dulu ada seorang yang dapat melakukan komunikasi dengan ruh orang sudah mati, yang bernama Ruh Erry yang dalam salah satu dialognya itu ditanyakan, “Kapan kiamat itu terjadi?” jawabnya kiamat itu terjadi pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1999, ternyata setelah waktu itu lewat tidak terjadi apa apa.

Hanya saat itu orang Madura bertanya, “Bedhe napa pokol sanga bulan sanga tahun sangang poloh sangak”, kemudian nara sumber menjawab, “Segumpen napa sing bedhe ngak angak.” (Tidak terjadi apa-apa. Yang ada hanya yang hangat-hangat aja).

Dengan prediksi-prediksi yang semacam itu yang dilontarkan oleh seorang astronom tenteng kapan kiamat itu terjadi, maka hal itu tidak akan pernah ada buktinya. Beberapa praduga yang pernah dilontarkan oleh para ilmuwan itu pun juga tidak akan terjadi.

Ada memang skenario yang menyebutkan bahwa komet Levy Schumacher itu masuk pada daerah tata surya yang masuk ke daerah planet Yupiter, apabila meleset kemudian menghantam bumi dan semua kehidupan di bumi akan musnah. Prediksi-prediksi yang semacam ini sebetulnya tidak dapat kita benarkan, sama dengan halnya tentang masalah ruh yang termaktub dalam al-Quran yasalunaka an ruuh, quliirruh min amrirabby, wamaa utiitum minal ilmi illa qaliila. Ruh yang dimiliki manusia itu pun juga tidak akan pernah diprediksi kapan akan matinya. Walaupun sekarang dengan penelitian medis dapat diketahui kapan manusia itu akan mati, itupun sebetulnya tidak dapat diprediksi karena ada kesamaan gejala yang telah diketahui oleh dokter medis tersebut. Seperti pada kasus sel darahnya pecah, atau di saat ginjalnya tidak berjalan disebabkan ada kotoran naik ke otak dan mengganggu ke saraf. Jika dalam waktu sekian menit tidak tertolong, akan menyebabkan kematian. Hal itu bukan sebuah pengetahuan, hanya ada kesamaan-kesamaan gejala dan orang yang mengalami nasib yang serupa terjadi. Jadi orang yang menurut perhitungan medis itu akan meninggal, ternyata ada yang tidak mati. Dan orang yang tidak kita sangka itu akhirnya mati.

Apalagi kiamat yang terjadinya hanya satu kali, tidak dapat diprediksi kapan waktu kiamat itu terjadi. Tetapi ilmu Allah itu ada yang bisa diketahui oleh manusia, tentang kiamat. Bahwa kiamat itu dekat, memang sudah diinformasikan oleh Allah dalam beberapa ayat, bahwa kiamat itu dekat, diantaranya:

allahulladzi anzalla kitaba bil haq wal mizan wama yudriika la’alla sa’ata qorib (as-Syuro :17).

وما يدريك لعل الساعة قريب الله الذي أنزل الكتاب بالحق والميزان

Dan dalam ayat lain:

Yasaluka an-Nasu anissa’ah kul innama ilmuha indallahi wamayudriika la’alla sa’ata takunu qoriba (al-Ahzab : 63).

Jadi semuanya menunjukkan bahwa kiamat itu sudah dekat termasuk ayat: azifatil azifah dalam surat an-Najam ayat 57. Bahwa terjadinya kiamat itu adalah ilmu Allah yang diberitahukan pada kita bahwa kiamat itu dekat, hanya itu saja informasi yang diberikan.Kapan dekatnya adalah sesuatu yang tidak kita ketahui, karena Allah tidak akan menampakkan, sebagaimana yang disebutkan :

الله الذي أنزل الكتاب بالحق والميزان وما يدريك لعل الساعة قريب الله وما يدريك لعل الساعة تكون قريبا ]يسألك الناس عن الساعة قل إنما علمها عند

Artinya semua ayat diatas menunjukkan bahwa kiamat itu dekat, hanya kapan itu waktunya itu merupakan rahasia Allah, karenanya tadi disebutkan bahwa kiamat itu la yujalliha liwaqtiha. Sedangkan Imam al Qurthubi dalam kitab al-Jami’ fi ahkamil qur’an ayat azifatil azifah (an-Najm : 57) ditafsirkan sebagai qoribatussa’ah wa zannatil qiyamah wa sammaha azifah liqoriibin qiyamuha ‘indallahi, kama qoola yarounahu ba’iiidan wa naroohu qoriiiba. Ini adalah ilmu Allah yang menandakan bahwa kiamat itu telah dekat, termasuk ilmu Allah yang diperlihatkan kepada manusia adalah tentang amaarotus sa’ah, tanda-tanda kiamat mana saja yang telah kita kenal seperti dalam kitab-kitab bahwa tanda kiamat itu.

Termasuk pembuktian dari dekatnya kiamat itu, apa yang dilakukan oleh astronom untuk melihat gejala-gejala alam yang akhirnya dapat menambah keimanan dan keyakinan mereka tentang kiamat. Bahwa kiamat itu pasti terjadi, akan tetapi apapun yang mereka simpulkan dari hasil temuan-temuan itu, tidak akan pernah terjadi. Karena kiamat itu ilmu yang oleh Allah tidak pernah dibuka pada makhluk, mengantarkan saya untuk menyimpulkan bahwa sampai akhir nanti tidak akan ada orang yang tahu kapan kiamat itu terjadi. Kalau pun bisa hanya sebatas melihat gejala alam yang terjadi, hal ini pun syarat dengan pertentangan teori-teori yang berkembang saat ini.

Kajian astronomi dalam kaca mata al-Quran

Adapun teori-teori yang bisa kita terima sebagai hasil pengembangan para astronom, antara lain ditabraknya bumi oleh benda antariksa seperti asteroida atau komet yang cukup besar. Andai kata benda antariksa itu ukurannya tidak kurang dari 10km dan menabrak dengan kelajuan 30km per menit, maka ada bola api yang timbul karena gesekan turbulensi (putaran benda) pada atsmosfer akan merusak lapisan ozon serta menimbulkan suhu 500° celsius serta belahan bumi yang tertimpa jika jatuh di sebuah samudera, maka gelombang air pada jarak 1000km pada titik cebur, tingginya 500km sehingga lautan raksasa itu akan meluap dan membanjiri daratan ini. Prediksi ilmuwan semacam ini, ada kalau kita kaji di dalam al-Quran sebelum ilmuan melakukan pengkajian. Cuma anehnya golongan kita (santri) malas untuk melakukan penelitian seperti itu, akhirnya penelitian itu diambil orang di luar Islam.

Pengkajian (istiqro’) Imam Syafi’i tentang zamanil haidi, itu aksarul haid gholibuhu (paling banyak terjadinya haid) termasuk aqolluhu, itukan telah dilakukan beliau pada 1300 tahun yang lalu pada nisa’ul arab waktu itu. Tetapi upaya penelitian yang dilakukan Imam Syafi’i berhenti begitu saja pada zaman kita, dan menghasilkan proses pengambilan hukum yang tidak pernah diambil metodenya oleh kaum muslimin. Sehingga barat tahu bahwa keberhasilan sesuatu diambil cara yang pernah dilakukan Imam Syafi’i melalui observasi (pengamatan) langsung pada obyek benda.

Maka ketika para astronom meramalkan akan terjadinya luapan air yang ada di samudra yang mencapai ketinggian 500 m itu, juga dikaji oleh al-Quran, yang sayangnya kita tidak menyentuhnya sama sekali. Al-Quran mengatakan waidzal biharu fujjirot, di sini beberapa tafsir yang sempat saya baca di dalam ayat ini dikatakan bahwa asal fujjirot itu adalah lautan yang asalnya terpecah-pecah itu menjadi satu karena masing-masing lautan itu meluap karena adanya dentuman yang cukup kuat, sehingga laut itu menjadi satu . Kalau keadaan bumi sudah sedemikian terjadinya, maka bumi itu telah ditelan oleh air diterangkan dalam tafsir ai fajaro ba’duha liba’din fashoro biharon wahidan.

Fenomena tersebut tidak berhenti disitu saja, para astronom mengantisipasi dengan skenario yang kedua, yaitu apabila asteorid atau komet terbentur benua, maka tiupan angin pada jarak 2000 km dari titik bentur, dengan kelajuan sekitar 2500 km/jam dan ledakan yang sangat dahsyat terjadi, mengakibatkan berhamburannya di udara yang bukan main hebatnya. Akibat dari fenomena itu akan menggelapkan langit sehingga menghalangi cahaya matahari dan bulan, keduanya akan nampak pudar. Juga akan terjadi gelombang setinggi 10km yang melajur di arah bumi. Gejala ini juga merupakan kiamat yang dalam al-Quran surat al-Qiyamah disebutkan: wakasyafal qomar yang diartikan bahwa bulan itu nantinya akan kehilangan cahayanya (dhahaba dhou’uhu). Kehilangan yang dimaksud adalah dalam konteks dunia bisa kembali lagi setelah pergi, tetapi dalam konteks dzahaba dhou’uhu fil akhiroh fainnahu la ya’udu dhouhu itu kalau dalam perspektif akhirat menjadi fayuhtamalu ayyakuna bima’na ghoba, maka kalimat wakasafal qomar itu ditafsiri dalam konteks kiamat karena bulan tidak akan kembali lagi sinarnya.

Pernyataan itu sudah ditemukan oleh astronom bahwa sinar matahari itu yang menurut teori itu munculnya, dikarenakan ada semacam energi yang ada di dalam matahari, ternyata energi itu semakin hari-semakin menipis dibuktikan karena adanya titik hitam yang ditemukan pada permukaaan matahari. Walaupun ada teori lain yang mengatakan bahwa titik hitam itu bisa saja suatu hari akan hilang dan mengembang kemudian mengempis lagi (ekspansi). Hal ini menunjukkan bahwa kiamat itu masih lama, akan tetapi teori yang mengatakan titik hitam itu sebagai bukti bahwa berkurangnya energi itu pada matahari, maka yang pantas suatu saat energi itu akan menghilang sama sekali. Akhirnya matahari akan kehilangan cahayanya. Pada saat itu kehidupan akan menjadi hilang, begitu menurut teori ahli astronomi karena sudah tidak mendapatkan kiriman dari matahari yang menyebabkan kematian seluruh tumbuh-tumbuhan. Diikuti seluruh makhluk yang rantai makanannya berasal dari tumbuhan termasuk hewan dan manusia. Begitu juga bulan yang sinarnya merupakan pantulan dari matahari sendiri dengan intensitas seperenam miliar dari sinar yang dimiliki matahari.

Ini adalah skenario-skenario yang dicoba dimunculkan oleh para astronom. Ini bisa saja terjadi walaupun hal ini untuk membuktikan terjadinya kiamat itu tidak bisa, sebab kiamat itu terjadinya sebagaimana yang disampaikan waj’il auqood itu wain hiya illa kalamhin bashor. Bahwa kiamat itu dikatakan walillahi ghoibus syamawati wal ardhi wama amrussaati illa kalamhil basor, redaksi ayat kalamhil basor itu disebutkan dengan maksud kalamhil basor itu kan datangnya adalah baghtah (datangnya sangat cepat sekali) juga ada yang mengatakan bahwa apa yang di maksud kalamhil basor itu sebuah ungkapan adanya kedekatan. kalamhil basor itu maksudnya adalah dekat, jadi kedekatannya kiamat dengan keadaan ayat itu di munculkan dan merujuk pada arti waqila hua tamsilul lil qurbi. Al Qurtubi dalam kitabnya memberikan tafsir bahwa tamsilul lil qurbi itu suatu prediksi akan dekatnya terjadinya kiamat.

Ada lagi skenario yang bisa juga diterima di sini ada dukungan di dalam ayat Al Quran yang di katakan bahwa gebrakan yang ditimbulkan pada kerak bumi oleh benda antariksa yang jatuh itu akan terasa getaranya sebagai gempa yang dahsyat sebagaimana juga tercantum juga dalam Al Quran ayat 1 Surat Al Zalzalah yang mengatakan idza zulzilatil ardlu zilzalaha. Dengan demikian sebagai contoh riil dapat di kemukakan disini misalnya, apa yang terjadi di Siberia tahun 1908 ketika komet ENKE yang ukuranya hanya 1 km dan beratnya sekitar 3.5 ton menimpa permukaan dengan laju 40 m perdetik atau permenit terus berputar sekitar 30 derajat dan dia meledak dengan kekuatan skala 30 richter atau 2500 ton atom. Sedangkan korban yang disebutkan dalam berita yang di munculkan pada saat itu, korban yang meninggal sekitar 3.250.000 orang. Artinya prediksi-prediksi tentang terjadinya kiamat yang di munculkan oleh Al Quran pasti akan terjadi.

Sumber dari skenario-skenario itu bersumber dari ayat Allah. Di mana embrio (cikal bakal) itu sudah terjadi, jadi ayat zulzilatil ardlu zilzalaha, telah terbukti sekarang dengan adanya gempa bumi yang tidak pernah berhenti dan frekuensi terjadinya gempa semakin lama, semakin cepat. Pada tahun 1912 sampai 1939 itu pernah di teliti oleh para ahli gempa di Amerika terjadi gempa itu seratus kali pertahun, jadi pernah setahun tidak ada gempa, jadi pernah setahun itu dua atau tiga dalam setahun sehingga rata-rata setahun sekali. Akan tetapi kalau penelitian itu di lakukan sekarang maka sudah tidak berlaku lagi, karena gempa itu bisa menjadi puluhan kali rata-ratanya, jadi frekuensi gempa yang semakin banyak dan itu di prediksi akan terus berkembang semakin banyak. Jadi dari beberapa penjelasan ini jelas sudah, bahwasanya kiamat itu pasti terjadi ditinjau dari sudut manapun, terlepas dari adanya pernyataan yang masih menyatakan kiamat itu tidak terjadi, dengan menggunakan teori mengempis dan mengembang yang memprediksi bumi ini akan terus bisa bertahan. Tetapi menurut informasi Al-Qur’an itu sudah ada pembuktian dari berbagai pertemuan para ahli sains, bahwa kiamat itu akan terjadi. Dibalik keyakinan akan terjadinya kiamat adalah suatu yang sangat kronis.

Kiamat global: Kembali ke titik singularitas

Ketika ada orang meramalkan kapan kiamat itu terjadi, maka berarti kalau dia mengetahui kapan terjadinya kiamat. Maka sama saja dia memposisikan diri lebih baik dari Nabi dan Malaikat. Sebab Nabi dan Malaikat Jibril yang mendapat informasi langsung dari Allah pun tidak tahu kapan kiamat itu terjadi. Kiamat yang terjadi pada saat itu adalah kiamat global yang artinya hancurnya bumi dan langit. Tetapi eksistensi alam itu masih ada, jadi eksistensi alam dan ruh manusia itu ada karena didalam Al-Qur’an kita menemukan beberapa ayat yang menyatakan surga dan neraka itu ada di dunia ini. Jadi eksistensinya itu ada sampai kapan pun, selanjutnya terjadilah kiamat universal. Kapan kiamat universal itu akan terjadi dimana pada saat kiamat universal maka semuanya akan menciut pada titik singularitas bagaimana proses alam itu diciptakan pertama kali. Jadi alam akan diciptakan dari titik singularitas (dari titik terkecil), kemudian mengalami dentuman dan mengembang menjadi alam semacam ini (sebagaimana diredaksikan dalam al-Quran: kanata rotqon fafataqna huma. Walaupun masih ada perbedaan antara para filosof Yunani dengan filosof Muslim juga para Mufasir yang memahami ayat Al-Qur’an tentang adanya teori dentuman itu (big bang/the expanse universe). Tetapi ada pemahaman yang sama bahwa disitu akan kembali pada titik singularitas. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang terjadi setelah alam seisinya itu kembali pada titik singularitas? maka hal itu adalah urusan Allah. Kalau sebagian mufassir menyampaikan redaksi yang berbeda masalah

سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين [39.73]

Pada pembahasan khilaf lain sebab Allah sifatnya Baqo’

والآخرة خير وأبقى [87.17]

yang berarti Allah itu kekal selama-lamanya, akan tetapi ciptaan Allah yang termasuk Surga dan Neraka itu namanya Kholid yang artinya kekal. Akan tetapi kekalnya itu sampai batasan tertentu, hanya Allah yang maha mengetahui. Jadi Kholidina fiihaa itu banyak yang memahami bahwa kekalan itu sampai pada batasan Allah yang Maha Mengetahui. Jadi kekal pada prospek hukum Allah. Karena tidak mungkin adanya kekal sama dengan kekalnya Allah. Tapi Anda jangan bertanya kalau itu betul-betul nanti akan menciut setelah itu, bukan wilayah pembahasan kita. Saya yakin Anda tidak akan pernah menemukan jawabannya. Jadi Anda kalau ingin tahu, tanya sendiri kepada Allah. (Baca juga: Kiamat dalam Perspektif al-Qur’an dan Sains)

Penulis: Sayyid Hadi al Habsy

http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/dalwa.bangil/cgi-bin/dalwa.cgi/al_bashiroh/tafsir/02-aug05.single

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s