Kapan Kiamat Terjadi?

Kiamat adalah salah satu misteri ilahi yang terjaga kerahasiaannya. Dan saya yakin sampai sekarangpun tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditemukan dalam prespektif (pandangan) manapun.

Kembali pada pembahasan kitab-kitab tafsir dengan menganalisa pernyataan Sayyidina Abu Bakar Siddiq Ra. dalam mafatihul Ghaib dalam surah al-Baqarah itu dikatakan bahwa, di antara ilmu Allah itu ada ilmu yang diberikan kepada semua manusia, sehingga semua manusia tahu tentang ilmu Allah itu. Kemudian ada ilmu Allah yang diberikan hanya pada orang-orang Khawwas (ahli ma’rifat), sehingga kita tidak bisa mengetahuinya. Dan diantara ilmu Allah ada yang hanya diberikan pada para Nabi, sehingga kalangan awam dan khawwas pun tidak bisa mengetahuinya. Bagian terakhir (the last sharing) dari pembahasan Ilmu Allah itu ada ilmu yang ketiga golongan itu tidak diketahui sama sekali oleh mereka, kecuali Allah.

Dari sharing (pembagian) di atas, masalah kiamat ternyata masuk pada bagian yang terakhir (last sharing) yang para nabipun tidak mengetahuinya. Seperti hadist.

bainama nahnu juluusun ‘inda Rasulillahi itthola’a alaina rajulun sadidul bayadhis siyab sawaadus sa’ar layura alaihi atsarus safar la ya’rifu ahadun minna hatta yajlisa ilan nabi, ila akhirihi… ,

Sampai pada akhirnya ditanyakan sa’ah itu, jawabnya ma mas’ulun anhu bih a’lama minas saail? Ada deretan ayat yang tidak diketahui oleh manusia diantaranya dalam surat al-A’raf ayat 187:

yasalunaka anis sa’ah ayyana mursaaha, qul innama ‘ilmuha ‘inda rabbi layujalliha li waqtiha illa huwa, tsaqulat fissamawati wal ardi lata’tikum illa baghtatan, yasalunaka ka annaka hafiyyun anha qul innama ilmuha indallah walakinna aktsaranaasi laya’lamuun.

لا تأتيكم إلا بغتة يسألونك كأنك حفي عنها لا يجليها لوقتها إلا هو ثقلت في السماوات والأرض يسئلونك عن الساعة أيان مرساها قل إنما علمها عند ربي

Dalam ayat di atas secara tegas dikatakan bahwa kiamat itu adalah suatu persoalan yang ilmunya hanya dimiliki Allah, yang sedikitpun Allah tidak menampakkan pada manusia, layujalliha ditafsiri la yudzhiruha li waqtiha ai fi waqtiha illa huwa. Jadi tidak diberi tahukan waktu kapan kiamat itu terjadi, termasuk dalam ayat-ayat lain yang tadi disebutkan.

Nah, akan tetapi dibalik itu ada ilmu kiamat yang diberitahukan pada manusia, yang tidak diberitahukan pada manusia itu hanya ilmu tentang kapan kiamat itu terjadi, dan itu tidak mungkin terjadi diketahui oleh manusia.

Kalau dulu ada seorang yang dapat melakukan komunikasi dengan ruh orang sudah mati, yang bernama Ruh Erry yang dalam salah satu dialognya itu ditanyakan, “Kapan kiamat itu terjadi?” jawabnya kiamat itu terjadi pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1999, ternyata setelah waktu itu lewat tidak terjadi apa apa.

Hanya saat itu orang Madura bertanya, “Bedhe napa pokol sanga bulan sanga tahun sangang poloh sangak”, kemudian nara sumber menjawab, “Segumpen napa sing bedhe ngak angak.” (Tidak terjadi apa-apa. Yang ada hanya yang hangat-hangat aja).

Dengan prediksi-prediksi yang semacam itu yang dilontarkan oleh seorang astronom tenteng kapan kiamat itu terjadi, maka hal itu tidak akan pernah ada buktinya. Beberapa praduga yang pernah dilontarkan oleh para ilmuwan itu pun juga tidak akan terjadi.

Ada memang skenario yang menyebutkan bahwa komet Levy Schumacher itu masuk pada daerah tata surya yang masuk ke daerah planet Yupiter, apabila meleset kemudian menghantam bumi dan semua kehidupan di bumi akan musnah. Prediksi-prediksi yang semacam ini sebetulnya tidak dapat kita benarkan, sama dengan halnya tentang masalah ruh yang termaktub dalam al-Quran yasalunaka an ruuh, quliirruh min amrirabby, wamaa utiitum minal ilmi illa qaliila. Ruh yang dimiliki manusia itu pun juga tidak akan pernah diprediksi kapan akan matinya. Walaupun sekarang dengan penelitian medis dapat diketahui kapan manusia itu akan mati, itupun sebetulnya tidak dapat diprediksi karena ada kesamaan gejala yang telah diketahui oleh dokter medis tersebut. Seperti pada kasus sel darahnya pecah, atau di saat ginjalnya tidak berjalan disebabkan ada kotoran naik ke otak dan mengganggu ke saraf. Jika dalam waktu sekian menit tidak tertolong, akan menyebabkan kematian. Hal itu bukan sebuah pengetahuan, hanya ada kesamaan-kesamaan gejala dan orang yang mengalami nasib yang serupa terjadi. Jadi orang yang menurut perhitungan medis itu akan meninggal, ternyata ada yang tidak mati. Dan orang yang tidak kita sangka itu akhirnya mati.

Apalagi kiamat yang terjadinya hanya satu kali, tidak dapat diprediksi kapan waktu kiamat itu terjadi. Tetapi ilmu Allah itu ada yang bisa diketahui oleh manusia, tentang kiamat. Bahwa kiamat itu dekat, memang sudah diinformasikan oleh Allah dalam beberapa ayat, bahwa kiamat itu dekat, diantaranya:

allahulladzi anzalla kitaba bil haq wal mizan wama yudriika la’alla sa’ata qorib (as-Syuro :17).

وما يدريك لعل الساعة قريب الله الذي أنزل الكتاب بالحق والميزان

Dan dalam ayat lain:

Yasaluka an-Nasu anissa’ah kul innama ilmuha indallahi wamayudriika la’alla sa’ata takunu qoriba (al-Ahzab : 63).

Jadi semuanya menunjukkan bahwa kiamat itu sudah dekat termasuk ayat: azifatil azifah dalam surat an-Najam ayat 57. Bahwa terjadinya kiamat itu adalah ilmu Allah yang diberitahukan pada kita bahwa kiamat itu dekat, hanya itu saja informasi yang diberikan.Kapan dekatnya adalah sesuatu yang tidak kita ketahui, karena Allah tidak akan menampakkan, sebagaimana yang disebutkan :

الله الذي أنزل الكتاب بالحق والميزان وما يدريك لعل الساعة قريب الله وما يدريك لعل الساعة تكون قريبا ]يسألك الناس عن الساعة قل إنما علمها عند

Artinya semua ayat diatas menunjukkan bahwa kiamat itu dekat, hanya kapan itu waktunya itu merupakan rahasia Allah, karenanya tadi disebutkan bahwa kiamat itu la yujalliha liwaqtiha. Sedangkan Imam al Qurthubi dalam kitab al-Jami’ fi ahkamil qur’an ayat azifatil azifah (an-Najm : 57) ditafsirkan sebagai qoribatussa’ah wa zannatil qiyamah wa sammaha azifah liqoriibin qiyamuha ‘indallahi, kama qoola yarounahu ba’iiidan wa naroohu qoriiiba. Ini adalah ilmu Allah yang menandakan bahwa kiamat itu telah dekat, termasuk ilmu Allah yang diperlihatkan kepada manusia adalah tentang amaarotus sa’ah, tanda-tanda kiamat mana saja yang telah kita kenal seperti dalam kitab-kitab bahwa tanda kiamat itu.

Termasuk pembuktian dari dekatnya kiamat itu, apa yang dilakukan oleh astronom untuk melihat gejala-gejala alam yang akhirnya dapat menambah keimanan dan keyakinan mereka tentang kiamat. Bahwa kiamat itu pasti terjadi, akan tetapi apapun yang mereka simpulkan dari hasil temuan-temuan itu, tidak akan pernah terjadi. Karena kiamat itu ilmu yang oleh Allah tidak pernah dibuka pada makhluk, mengantarkan saya untuk menyimpulkan bahwa sampai akhir nanti tidak akan ada orang yang tahu kapan kiamat itu terjadi. Kalau pun bisa hanya sebatas melihat gejala alam yang terjadi, hal ini pun syarat dengan pertentangan teori-teori yang berkembang saat ini.

Kajian astronomi dalam kaca mata al-Quran

Adapun teori-teori yang bisa kita terima sebagai hasil pengembangan para astronom, antara lain ditabraknya bumi oleh benda antariksa seperti asteroida atau komet yang cukup besar. Andai kata benda antariksa itu ukurannya tidak kurang dari 10km dan menabrak dengan kelajuan 30km per menit, maka ada bola api yang timbul karena gesekan turbulensi (putaran benda) pada atsmosfer akan merusak lapisan ozon serta menimbulkan suhu 500° celsius serta belahan bumi yang tertimpa jika jatuh di sebuah samudera, maka gelombang air pada jarak 1000km pada titik cebur, tingginya 500km sehingga lautan raksasa itu akan meluap dan membanjiri daratan ini. Prediksi ilmuwan semacam ini, ada kalau kita kaji di dalam al-Quran sebelum ilmuan melakukan pengkajian. Cuma anehnya golongan kita (santri) malas untuk melakukan penelitian seperti itu, akhirnya penelitian itu diambil orang di luar Islam.

Pengkajian (istiqro’) Imam Syafi’i tentang zamanil haidi, itu aksarul haid gholibuhu (paling banyak terjadinya haid) termasuk aqolluhu, itukan telah dilakukan beliau pada 1300 tahun yang lalu pada nisa’ul arab waktu itu. Tetapi upaya penelitian yang dilakukan Imam Syafi’i berhenti begitu saja pada zaman kita, dan menghasilkan proses pengambilan hukum yang tidak pernah diambil metodenya oleh kaum muslimin. Sehingga barat tahu bahwa keberhasilan sesuatu diambil cara yang pernah dilakukan Imam Syafi’i melalui observasi (pengamatan) langsung pada obyek benda.

Maka ketika para astronom meramalkan akan terjadinya luapan air yang ada di samudra yang mencapai ketinggian 500 m itu, juga dikaji oleh al-Quran, yang sayangnya kita tidak menyentuhnya sama sekali. Al-Quran mengatakan waidzal biharu fujjirot, di sini beberapa tafsir yang sempat saya baca di dalam ayat ini dikatakan bahwa asal fujjirot itu adalah lautan yang asalnya terpecah-pecah itu menjadi satu karena masing-masing lautan itu meluap karena adanya dentuman yang cukup kuat, sehingga laut itu menjadi satu . Kalau keadaan bumi sudah sedemikian terjadinya, maka bumi itu telah ditelan oleh air diterangkan dalam tafsir ai fajaro ba’duha liba’din fashoro biharon wahidan.

Fenomena tersebut tidak berhenti disitu saja, para astronom mengantisipasi dengan skenario yang kedua, yaitu apabila asteorid atau komet terbentur benua, maka tiupan angin pada jarak 2000 km dari titik bentur, dengan kelajuan sekitar 2500 km/jam dan ledakan yang sangat dahsyat terjadi, mengakibatkan berhamburannya di udara yang bukan main hebatnya. Akibat dari fenomena itu akan menggelapkan langit sehingga menghalangi cahaya matahari dan bulan, keduanya akan nampak pudar. Juga akan terjadi gelombang setinggi 10km yang melajur di arah bumi. Gejala ini juga merupakan kiamat yang dalam al-Quran surat al-Qiyamah disebutkan: wakasyafal qomar yang diartikan bahwa bulan itu nantinya akan kehilangan cahayanya (dhahaba dhou’uhu). Kehilangan yang dimaksud adalah dalam konteks dunia bisa kembali lagi setelah pergi, tetapi dalam konteks dzahaba dhou’uhu fil akhiroh fainnahu la ya’udu dhouhu itu kalau dalam perspektif akhirat menjadi fayuhtamalu ayyakuna bima’na ghoba, maka kalimat wakasafal qomar itu ditafsiri dalam konteks kiamat karena bulan tidak akan kembali lagi sinarnya.

Pernyataan itu sudah ditemukan oleh astronom bahwa sinar matahari itu yang menurut teori itu munculnya, dikarenakan ada semacam energi yang ada di dalam matahari, ternyata energi itu semakin hari-semakin menipis dibuktikan karena adanya titik hitam yang ditemukan pada permukaaan matahari. Walaupun ada teori lain yang mengatakan bahwa titik hitam itu bisa saja suatu hari akan hilang dan mengembang kemudian mengempis lagi (ekspansi). Hal ini menunjukkan bahwa kiamat itu masih lama, akan tetapi teori yang mengatakan titik hitam itu sebagai bukti bahwa berkurangnya energi itu pada matahari, maka yang pantas suatu saat energi itu akan menghilang sama sekali. Akhirnya matahari akan kehilangan cahayanya. Pada saat itu kehidupan akan menjadi hilang, begitu menurut teori ahli astronomi karena sudah tidak mendapatkan kiriman dari matahari yang menyebabkan kematian seluruh tumbuh-tumbuhan. Diikuti seluruh makhluk yang rantai makanannya berasal dari tumbuhan termasuk hewan dan manusia. Begitu juga bulan yang sinarnya merupakan pantulan dari matahari sendiri dengan intensitas seperenam miliar dari sinar yang dimiliki matahari.

Ini adalah skenario-skenario yang dicoba dimunculkan oleh para astronom. Ini bisa saja terjadi walaupun hal ini untuk membuktikan terjadinya kiamat itu tidak bisa, sebab kiamat itu terjadinya sebagaimana yang disampaikan waj’il auqood itu wain hiya illa kalamhin bashor. Bahwa kiamat itu dikatakan walillahi ghoibus syamawati wal ardhi wama amrussaati illa kalamhil basor, redaksi ayat kalamhil basor itu disebutkan dengan maksud kalamhil basor itu kan datangnya adalah baghtah (datangnya sangat cepat sekali) juga ada yang mengatakan bahwa apa yang di maksud kalamhil basor itu sebuah ungkapan adanya kedekatan. kalamhil basor itu maksudnya adalah dekat, jadi kedekatannya kiamat dengan keadaan ayat itu di munculkan dan merujuk pada arti waqila hua tamsilul lil qurbi. Al Qurtubi dalam kitabnya memberikan tafsir bahwa tamsilul lil qurbi itu suatu prediksi akan dekatnya terjadinya kiamat.

Ada lagi skenario yang bisa juga diterima di sini ada dukungan di dalam ayat Al Quran yang di katakan bahwa gebrakan yang ditimbulkan pada kerak bumi oleh benda antariksa yang jatuh itu akan terasa getaranya sebagai gempa yang dahsyat sebagaimana juga tercantum juga dalam Al Quran ayat 1 Surat Al Zalzalah yang mengatakan idza zulzilatil ardlu zilzalaha. Dengan demikian sebagai contoh riil dapat di kemukakan disini misalnya, apa yang terjadi di Siberia tahun 1908 ketika komet ENKE yang ukuranya hanya 1 km dan beratnya sekitar 3.5 ton menimpa permukaan dengan laju 40 m perdetik atau permenit terus berputar sekitar 30 derajat dan dia meledak dengan kekuatan skala 30 richter atau 2500 ton atom. Sedangkan korban yang disebutkan dalam berita yang di munculkan pada saat itu, korban yang meninggal sekitar 3.250.000 orang. Artinya prediksi-prediksi tentang terjadinya kiamat yang di munculkan oleh Al Quran pasti akan terjadi.

Sumber dari skenario-skenario itu bersumber dari ayat Allah. Di mana embrio (cikal bakal) itu sudah terjadi, jadi ayat zulzilatil ardlu zilzalaha, telah terbukti sekarang dengan adanya gempa bumi yang tidak pernah berhenti dan frekuensi terjadinya gempa semakin lama, semakin cepat. Pada tahun 1912 sampai 1939 itu pernah di teliti oleh para ahli gempa di Amerika terjadi gempa itu seratus kali pertahun, jadi pernah setahun tidak ada gempa, jadi pernah setahun itu dua atau tiga dalam setahun sehingga rata-rata setahun sekali. Akan tetapi kalau penelitian itu di lakukan sekarang maka sudah tidak berlaku lagi, karena gempa itu bisa menjadi puluhan kali rata-ratanya, jadi frekuensi gempa yang semakin banyak dan itu di prediksi akan terus berkembang semakin banyak. Jadi dari beberapa penjelasan ini jelas sudah, bahwasanya kiamat itu pasti terjadi ditinjau dari sudut manapun, terlepas dari adanya pernyataan yang masih menyatakan kiamat itu tidak terjadi, dengan menggunakan teori mengempis dan mengembang yang memprediksi bumi ini akan terus bisa bertahan. Tetapi menurut informasi Al-Qur’an itu sudah ada pembuktian dari berbagai pertemuan para ahli sains, bahwa kiamat itu akan terjadi. Dibalik keyakinan akan terjadinya kiamat adalah suatu yang sangat kronis.

Kiamat global: Kembali ke titik singularitas

Ketika ada orang meramalkan kapan kiamat itu terjadi, maka berarti kalau dia mengetahui kapan terjadinya kiamat. Maka sama saja dia memposisikan diri lebih baik dari Nabi dan Malaikat. Sebab Nabi dan Malaikat Jibril yang mendapat informasi langsung dari Allah pun tidak tahu kapan kiamat itu terjadi. Kiamat yang terjadi pada saat itu adalah kiamat global yang artinya hancurnya bumi dan langit. Tetapi eksistensi alam itu masih ada, jadi eksistensi alam dan ruh manusia itu ada karena didalam Al-Qur’an kita menemukan beberapa ayat yang menyatakan surga dan neraka itu ada di dunia ini. Jadi eksistensinya itu ada sampai kapan pun, selanjutnya terjadilah kiamat universal. Kapan kiamat universal itu akan terjadi dimana pada saat kiamat universal maka semuanya akan menciut pada titik singularitas bagaimana proses alam itu diciptakan pertama kali. Jadi alam akan diciptakan dari titik singularitas (dari titik terkecil), kemudian mengalami dentuman dan mengembang menjadi alam semacam ini (sebagaimana diredaksikan dalam al-Quran: kanata rotqon fafataqna huma. Walaupun masih ada perbedaan antara para filosof Yunani dengan filosof Muslim juga para Mufasir yang memahami ayat Al-Qur’an tentang adanya teori dentuman itu (big bang/the expanse universe). Tetapi ada pemahaman yang sama bahwa disitu akan kembali pada titik singularitas. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang terjadi setelah alam seisinya itu kembali pada titik singularitas? maka hal itu adalah urusan Allah. Kalau sebagian mufassir menyampaikan redaksi yang berbeda masalah

سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين [39.73]

Pada pembahasan khilaf lain sebab Allah sifatnya Baqo’

والآخرة خير وأبقى [87.17]

yang berarti Allah itu kekal selama-lamanya, akan tetapi ciptaan Allah yang termasuk Surga dan Neraka itu namanya Kholid yang artinya kekal. Akan tetapi kekalnya itu sampai batasan tertentu, hanya Allah yang maha mengetahui. Jadi Kholidina fiihaa itu banyak yang memahami bahwa kekalan itu sampai pada batasan Allah yang Maha Mengetahui. Jadi kekal pada prospek hukum Allah. Karena tidak mungkin adanya kekal sama dengan kekalnya Allah. Tapi Anda jangan bertanya kalau itu betul-betul nanti akan menciut setelah itu, bukan wilayah pembahasan kita. Saya yakin Anda tidak akan pernah menemukan jawabannya. Jadi Anda kalau ingin tahu, tanya sendiri kepada Allah. (Baca juga: Kiamat dalam Perspektif al-Qur’an dan Sains)

Penulis: Sayyid Hadi al Habsy

http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/dalwa.bangil/cgi-bin/dalwa.cgi/al_bashiroh/tafsir/02-aug05.single

Astronomi secara umumnya adalah ilmu berkenaan kaji bintang. Ilmu ini merangkumi pemerhatian mahupun penjelasan berkaitan perkara yang berlaku di luar bumi dan atmosfera bumi. Ilmu astronomi boleh juga diertikan dengan ilmu falak. 

Mengikut Dictionary of Astronomy (Illingworth, 1979) maksud astronomi ialah kajian cerapan dan teoretis mengenai objek-objek samawi, ruang-ruang di antaranya dan tentang alam semesta secara keseluruhannya. Di bawahnya, secara tradisi, ialah astrometri (atau astronomi posisi) dan mekanik samawi. Ilmu falak pula secara tradisi, lebih tertumpu kepada astrometri iaitu kajian tentang posisi objek samawi di atas sfera samawi dan pergerakannya dengan perjalanan masa. Perkembangan ilmu astronomi seharusnya sejajar dengan perkembangan ilmu falak kerana maksud dan permulaan keduanya hampir sama[1].

Kepelbagaian langit dan bumi 

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?”
[Qaaf:6]

Langit dijadikan tanpa tiang yang menyangga

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
[Ar-Ra’d:2]

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”
[Luqman:10]

“Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,”
[An-Nazi’at:28]

“Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).”
[Ar-Rahmaan:7]

Keseimbangan dan kejadian yang mengagumkan

“Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”
[Al-Mu’minuun:86-88]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.”
[Ar-Rahmaan:5]

Tujuan pergerakan matahari dan bulan

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
[Al-An’am:96]

Tujuan kejadian bintang

Dan dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang Mengetahui.”
[Al-An’am:97]

Allah menegaskan timbulnya rasa takut dalam diri manusia apabila meneliti kejadian langit dan bumi

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
[1258] yang dimaksud dengan ulama dalam ayat Ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.
[Faathir:28]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”
[Ar-Ruum:23]

Pergerakan benda samawi yang teratur

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267]. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, Kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, Kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.
[Yaasiin:38-40]

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.”
[669] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
[Yunus:5-6]

Sifat matahari dan bulan

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.”
[Al-Furqaan:61]

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”
[Nuh:15-16]

Sistem matahari dan pergerakannya

“Dan dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
[Al-Anbiyaa’:33]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
[Yaasiin:40]

Semua benda samawi tertakluk di bawah penguasaan Allah Taala

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
[548] bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[Al-A’raaff:54]

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
[Luqman:29]

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
[Az-Zumar:5]

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.”
[Yaasiin :37]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”
[Al-An’am:59]

“ Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?”

[Al-Hujuraat:16]

Jarak ruang angkasa yang amat luas

Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, Maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.
[Az-Zukhruf:38]

Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, Sesungguhnya kami benar-benar Maha Kuasa.”
[Al-Ma’aarij:40]

“Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya[1442]”
[1442] dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya ialah tempat dan terbenam matahari di waktu musim panas dan di musim dingin.
[Ar-Rahmaan:17]

Kemungkinan manusia untuk menakluk dan melampaui batas-batas alam

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
[Ar-Rahmaan:33]

Kepelbagaian dan kejadian ilmu astronomi yang disebutkan di dalam al-Quran ini adalah manifestasi kepada kekuasaan serta keagungan Yang Maha Mencipta. Al-Quran bukanlah kitab astronomi. Kerana itulah kewujudan bintang-bintang hanya diceritakan secara umum dan tidak diceritakan secara khusus tempat atau kedudukan bintang tersebut. Fakta-fakta astronomi dihuraikan di dalam Al-Quran dengan cara yang tersendiri agar manusia lebih memahami tanda-tanda kebesaranNya.

http://ulum-ulama.blogspot.com/2008/12/ilmu-astronomi-di-dalam-al-quran.html

Zodiak dalam Astronomi

Posted: March 14, 2011 in Astr0n0miku

Awal tahun 2011 tampaknya berita tentang “perubahan zodiak” menjadi perhatian banyak orang.  Yang menjadi pusat perhatian adalah bagian “perubahan zodiak” yang terkait tanggal kelahiran atau yang terkait ramal-meramal nasib ala astrologi.

Lantas bagaimana dengan astronomi? Perubahan zodiak yang katanya menjadi kejutan di awal 2011 ini bukanlah merupakan sebuah kejutan. Berita tersebut sudah berulang kali muncul dengan isu keberadaan Ophiuchus sebagai “zodiak ke-13”, dan yang kemudian menjadi perbincangan hangat apakah “zodiak” seseorang berubah atau tidak. Dan para astronom pun dipertanyakan pendapatnya mengapa bisa terjadi perubahan zodiak dan apa kaitannya dengan zodiak astrologi yang dikenal selama ini.

Pada kenyataannya tidak ada hubungannya antara “perubahan” itu dengan astrologi dan ramal meramal. Tapi untuk itu mari sejenak kita coba mengenal apa itu zodiak.

Apakah zodiak berubah? Yuk, simak sejenak tentang zodiak ala astronomi.

Sejarah Zodiak

Zodiak berasal dari bahasa Yunani zoidiakos yang artinya tanda hewan kecil. Dalam bahasa latin kata ini menjadi zodiacus. Zodiak sendiri diartikan sebagai area rasi bintang yang tampak dari bumi dilintasi oleh matahari setiap tahunnya.

Zodiak klasik yang dibagi menjadi 12 rasi.

Di masa lalu, para pengamat langit seringkali membuat garis imajiner antara bintang-bintang yang kemudian membentuk sebuat rasi bintang yang memiliki gambaran tertentu misalnya singa untuk rasi Leo. Nah, mereka tidak hanya mengelompokkan bintang-bintang menjadi satu rasi tapi juga membagi ekliptika (area yang dilintasi Matahari dalam siklus tahunannya) menjadi 12 area dengan besaran yang sama yakni 30 derajat.

Kedua belas area itu kemudian diisi masing-masing oleh satu rasi bintang yang kemudian dikenal sebagai Konstelasi Zodiak.  Jika Matahari bergerak dengan kecepatan yang sama maka ia akan memasuki rasi yang baru setiap 30 hari sehingga bisa dikatakan Matahari akan berada di setiap rasi selama 30 hari atau satu konstelasi untuk 1 bulan dimulai dengan posisi Matahari di Vernal Equinox, yang pada masa itu merupakan saat Matahari berada di rasi Aries.  Ke-12 rasi itu adalah : Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces

Pembagian area ini mempermudah pekerjaan para pengamat langit untuk mencatat posisi Matahari, Bulan dan planet  dengan adanya titik acuan yakni bintang-bintang. Dan sistem ini menjadi sistem koordinat langit pertama yang dibuat dan kemudian berkembang menjadi sistem koordinat yang kita kenal saat ini (sistem koordinat equatorial).

Pembagian ini pertama kali  dibuat oleh bangsa Babilonia pada masa awal / pertengahan milenium pertama sebelum Masehi (626 SM – 539 SM). Zodiak tersebut juga berasal dari modifikasi katalog MUL.APIN yang berisikan 200 pengamatan astronomi termasuk di dalamnya pengukuran yang terkait beberapa konstelasi. Sistem katalog MUL.APIN ini diyakini dibuat dikisaran tahun 1370 SM namun ada juga sumber yang menyebutkan pada circa 1830 SM.

Katalog bintang Babilonia ini kemudian masuk dalam astronomi Yunani di abad ke-4 SM dan kemudian digunakan oleh bangsa Roma. Penggambaran zodiak ini kemudian muncul dalam Al Magest Star Catalogue (130 – 170 AD) yang disusun oleh Ptolomy dari Alexandria dalam menggambarkan teori geosentrisnya.

Konstelasi Modern
Dalam perkembangan astronomi, di awal abad ke-20 para astronom melihat perlu adanya sebuah ketetapan dan batasan dari konstelasi yang resmi untuk digunakan oleh para astronom di seluruh dunia, mengingat penafsiran akan konstelasi itu berbeda dari tiap negara maupun tiap budaya yang ada di dunia. Alasan lainnya adalah untuk mempermudah penamaan bintang variabel baru yang tidak bersinar dengan kecerlangan yang tetap. Bintang seperti ini dinamakan berdasarkan rasi tempat ia berada. Karena itu penting untuk memiliki satu konstelasi yang disetujui oleh semua pihak.

Zodiak dalam astronomi yang ditetapkan oleh IAU. Kredit : astronomy.swin.edu

Tahun 1930, IAU membagi langit berdasarkan 88 konstelasi modern yang dikenal hingga kini. Dalam pembagian itu, IAU juga meresmikan batas-batas setiap konstelasi untuk menghindari adanya sengketa wilayah antara satu rasi dengan rasi lainnya.

 

Cincin Zodiak berdasarkan pembatasan dari IAU. kredit : google image

Dari ke-88 konstelasi tersebut 48 konstelasi diantaranya dicatat pada buku ke-7 dan ke-8 Claudius Ptolemy yakni Al Magest, meskipun asal muasal rasi-rasi tersebut masih belum diketahui dengan pasti. Diyakini penggambaran yang dibuat Ptolemy dipengaruhi oleh pekerjaan Eudoxus dari Knidos pada kisaran 350 SM.

Di antara abad ke-16 dan 17 Masehi, astronom Eropa dan kartografer langit menambahkan lagi konstelasi baru pada 48 konstelasi yang sudah dibuat Ptolemy sebelumnya. Konstelasi baru ini merupakan “temuan baru” yang dibuat oleh orang-orang eropa yang menjelajah bumi belahan selatan.

Johann Bayer pada abad ke-16 dalam atlas bintang, Uranometria menambahkan 12 konstelasi yang ia kumpulkan dari berbagai sumber. Di tahun 1624, Jacob Bartsch menambahkan 3 konstelasi kemudian di akhir abad ke-17 Johannes Hevelius menambahkan 7 konstelasi Baru dan pada akhirnya di circa 1750, Nicolas Louis de Lacaille menemukan 14 konstelasi di belahan langit selatan.

Ophiuchus dalam Konstelasi Modern

Rasi Ophiuchus, si pembawa ular. kredit : Urania’s Mirror 1825

Dalam pemetaan konstelasi modern tersebut, istilah zodiak masih tetap digunakan untuk rasi bintang yang berada di ekliptika. Yang sedikit berbeda, setelah IAU melakukan pembatasan wilayah setiap rasi, maka setiap rasi ternyata tidak menghuni luas wilayah yang sama. Dan ini yang terjadi dengan wilayah setiap rasi di zodiak.

Jika dahulu bangsa Babilonia mempermudah pembagian dengan membagi masing-masing wilayah menjadi 30 derajat maka hasil bagi wilayah berdasarkan “keberadaan setiap rasi bintang di zodiak” menunjukkan kalau luas wilayahnya tidaklah sama untuk setiap konstelasi. Dengan demikian rasi yang dilintasi Matahari dalam siklus tahunannya itu meliputi 13 rasi yakni Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Ophiuchus, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces.

Pada konstelasi modern inilah Ophiuchus kemudian muncul sebagai salah satu rasi dalam area yang dilintasi Matahari dalam siklus tahunannya. Diketahui juga, keberadaan Matahari di rasi Ophiuchus ini 18,4 hari atau lebih lama dari keberadaan Matahari di Scorpio yang hanya 8,4 hari.  Rasi inilah yang kemudian digadang sebagai rasi ke-13. Apakah ini berarti Ophiuchus adalah rasi baru ?

Ophiuchus bukanlah “rasi baru” yang baru masuk dalam deretan konstelasi modern.

Rasi Ophiuchus sudah dikenal dalam pemetaan konstelasi sejak Yunani kuno dan digambarkan dalam konstelasi Ptolemy sebagai “Pemegang Ular” atau “The Serpent Bearer” di Al Magest Star Calogue. Konstelasi ini juga dipetakan dalam Farnese Globe, kopi atlas circa abad ke-2 SM.  Dalam Al Magest, Ptolemy juga mengidentifikasi rasi ini sebagai salah satu rasi yang dilintasi Matahari namun tidak diperhitungkan ke dalam zodiak.

Di masa lalu ketika tanda rasi ini dibuat dan dipetakan, ekliptika dibagi menjadi 12 area dengan batasan 30 derajat untuk masing-masing rasi di setiap 30 hari selama 1 tahun peredaran Matahari dari titik Aries dan kembali ke titik Aries (Vernal Equinox) di tahun berikutnya. Pada kenyataannya setiap rasi tidaklah memiliki luas area yang sama. Namun ini baru diketahui kemudian di tahun 1930 saat IAU menetapkan batas-batas wilayah rasi. Nah pada masa itu, diperkirakan Ophiuchus walau diketahui keberadaannya namun rasi ini bukanlah rasi yang cerlang dibanding Scorpius yang memang merupakan rasi yang terang dan mudah dikenali.

Tanggal Zodiak Berubah ?

Presesi sumbu rotasi Bumi. kredit : University of Hong Kong Dept of Physics

Bumi berotasi pada porosnya. Ketika berputar, sumbu rotasi Bumi akan berperilaku mirip gasing yang bergeser sedikit demi sedikit. Gerak perputaran sumbu rotasi Bumi ini memiliki periode 25765 tahun. Karena perubahan yang sangat lambat dalam hal orientasi dengan bintang, posisi Matahari di langit pada Vernal Equinox bergeser perlahan ke barat yang artinya juga bergeser dari penanggalan. Inilah yang disebut efek presesi equinox. Laju pergeseran itu 1 hari setiap 71 tahun.

Pada tahun 2011 ketika vernal equinox terjadi pada tanggal 21 Maret, posisi Matahari tampak berada di rasi Pisces di dekat perbatasan Aquarius. Berbeda dengan saat pertama kali konstelasi zodiak dipetakan pada kisaran tahun 1370 SM, pada masa itu vernal equinox terjadi ketika Matahari masih berada di rasi aries. Dan di tahun 10000 nanti, Matahari pada tanggal 21 Maret akan tampak berada di rasi Scorpius. Matahari akan kembali tampak berada di Aries dalam kisaran 23000 tahun lagi.

Presesi sumbu rotasi Bumi inilah yang menyebabkan terjadinya pergeseran waktu Matahari berada pada rasi tertentu.

Pergeseran Matahari di Rasi Bintang yang ia lalui dalam siklus tahunannya pada tanggal yang sama yakni 21 Maret untuk circa 2500 SM Matahari di Aries, circa 1370 SM Matahari masih di Aries dekat perbatasan Pisces, 2011 Matahari di Pisces dan thn 10000 Matahari tampak di Scorpius. Kredit : Stellarium

Zodiak dalam Astrologi
Nah, untuk kaitan dengan astrologi, acuan yang digunakan berbeda karena basis yang digunakan adalah tropical zodiak yang membagi langit menjadi 12 bagian yang dihuni masing-masing rasi. Tropic disini berasal dari bahasa Yunani yang artinya titik balik. Dan pada dasarnya mengacu pada titik ketika Matahari terbit dan terbenam dan tampak akan berbalik dan bergerak ke utara di Bumi belahan utara atau ke arah selatan di Bumi belahan selatan di sepanjang horison setelah Winter Solstice atau ke arah sebaliknya setelah Summer Solstice.

Para astrolog ini bukannya tidak tahu mengenai keberadaan rasi Ophuchus namun pemahaman mereka berbeda dari astronomi yang menggunakan basis data pengamatan sebagai acuan. Selain itu berdasarkan pemahaman mereka pergeseran Matahari akibat presesi equinox juga tidak relevan. Karena itu zodiak dalam astrologi tetap 12 dan rentang waktunya juga tidak berubah.

Yang pasti tidak pernah ada hubungan apapun antara rasi bintang dengan nasib seseorang. Tapi penampakan rasi bintang di langit pada waktu tertentu memang bisa terkait dengan pola kehidupan masyarakat baik dalam kehidupan agraris yang bercocok tanam maupun dalam kehidupan maritim.

Tabel Zodiak untuk Zodiak Astronomi dan Astrologi. Jangan mencampuradukan astronomi dan astrologi!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

http://langitselatan.com/2011/01/20/zodiak-dalam-astronomi/

Astronom Perempuan

Posted: March 14, 2011 in Astr0n0miku

Astronomi memang telah melangkah jauh dibanding berabad-abad lampau ketika para matematikawan maupun fisikawan dan astronom memulai perjalanan ini dari pengamatan sederhana dan perhitungan-perhitungan sederhana yang justru membuka jalan bagi pengetahuan maha dasyat tentang alam semesta. Ruang maha luas yang tak bisa disentuh oleh manusia dan tetap menjadi misteri bagi peradaban di Bumi.

Maria Mitchell, astronom wanita pertama di Amerika yang menemukan komet. Kredit : BarkeleyMaria Mitchell, astronom wanita pertama di Amerika yang menemukan komet. Kredit : Barkeley

Di antara mereka, terdapat juga banyak wanita yang ikut ambil bagian dalam peletakkan dasar itu. Perempuan-perempuan yang bukan hanya mampu menghasilkan karya di bidang astronomi lewat pengamatan panjang dan perhitungan yang tekun, namun sekaligus menjadi tonggak sejarah kebangunan astronom wanita. Mereka adalah orang-orang yang bertarung dengan pandangan masyarakat di masanya akan perempuan dan pendidikan tinggi. Masa yang pernah menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua dan yang tidak bersahabat dalam memberi kesempatan pendidikan tinggi maupun karir bagi perempuan.

Sexism atau pemisahan gender kala itu memang terjadi di mana-mana. Namun sejarah juga memperlihatkan di tengah kondisi seperti itu, lahir ilmuwan-ilmuwan perempuan tangguh yang berkontribusi dalam membangun astronomi sebagai salah satu bidang keilmuan.

Caroline Herschel. Kredit : NatureCaroline Herschel, Astronom perempuan pertama yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : Nature

Di antara astronom perempuan yang tersebut ada Caroline Herschel (16 Maret 1750 – 9 Januari 1848), astronom asal Jerman yang menemukan beberapa komet dan menjadi asisten bagi sang kakak Sir William Herschel dalam pekerjaan astronominya. Walaupun pada awalnya ia bertindak selaku asisten, namun ia kemudian  melakukan pengamatan sendiri dan berhasil menemukan objek-objek langit memukau seperti M110 (NGC 205) pasangan galaksi Andromeda, 8 buah komet, dan menemukan kembali komet Encke di tahun 1795. Caroline kemudian diberi penghargaan penghasilan tahunan sebesar 50 £ oleh George III untuk pekerjaannya sebagai asisten William Herschel. Caroline juga membantu sang kakak dalam menyusun katalog bintang yang diterbitkan tahun 1798.

Setelah kematian William, Caroline meneruskan proses verifikasi dan konfirmasi atas penemuan Wiliam dan membuat katalog nebula untuk membantu keponakannya John Herschel dalam pekerjaan astronominya. Ia kemudian dianugerahi Medali Emas untuk pekerjaannya oleh Royal Astronomical Society pada tahun 1828. Dan tak ada perempuan lainnya yang diberi penghargaan ini sampai tahun 1996 ketika Vera Rubin diberi penghargaan yang sama.

Astronom perempuan lainnya adalah Henrietta Swan Leavitt (4 Juli 1868 – 12 Desember 1921) lulusan Redcliffe College yang kemudian bekerja di Harvard College Observatory dengan tugas menghitung citra pada plat fotografi. Pekerjaan inilah yang mebawa Henrietta menemukan satu hal penting yang menjadi dasar dalam perhitungan jarak di masa depan dan menjadi dasar bagi pekerjaan Edwin Hubble.

Penemuan Henrietta itu adalah hubungan Periode-Luminositas Cepheid sebagai alat penentu jarak. Penemuan yang membuka mata manusia akan kebesaran alam semesta. Dari penemuannya ini, para astronom bisa mengukur jarak cepheid di galaksi lain dan bisa mengetahui jarak galaksi tersebut.  Cepheid merupakan bukti penting kalau ada galaksi lain yang berada jauh di luar Bima Sakti. Penemuan Hanrietta Leavitt pada akhirnya mengubah teori astronomi modern. Pencapaian yang sangat penting dan luar biasa mengingat ia hampir tak pernah mendapatkan kredit selama hidupnya. Penghargaan padanya diberikan dengan memberi nama Leavitt pada asteroid dan salah satu kawah di Bulan. Peghargaan lainnya juga diberikan padanya oleh AAS dengan menemukan hubungan periode-luminositas yang ia temukan dengan namanya yakni Leavitt Period-Luminosity relation.

Annie Jump Canon. Kredit : WikimediaAnnie Jump Canon. Kredit : Wikimedia

Astronom lainnya, Annie J. Canon ( 11 Desember 1863 –  13 April 1941) juga memberikan kontribusi yang sangat penting dalam klasifikasi bintang. Ia membagi bintang dalam beberapa kelas berdasarkan spektrumnya. Kelas spektrum yang ia buat inilah yang menjadi dasar klasifikasi fisis bintang dalam sejarah perkembangan astronomi sampai hari ini. Kelas yang dikenal dengan idiom Oh Be A Fine Girl and Kiss Me (O B A F G K M). Dan saat itu ia bekerja di Harvard dengan bayaran 25 sen sementara sekretaris di Harvard mendapatkan bayaran yang lebih dari itu.

Untuk pekerjaan klasifikasi bintang ini, Annie J Canon sebenarnya membuat klasifikasi yang sederhana dan lebih mudah dipahami dibanding klasifikasi yang telah dibuat sebelumnya oleh Antonia Maury maupun klasifikasi yang diajukan oleh Williamina Flemming, dua astronom wanita lainnya pada masa itu yang juga bekerja dalam mengkatalogkan bintang. Williamina Flemming juga astronom yang menemukan nebula kepala kuda.

Vera Rubin, astronom perempuan kedua yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : VassarVera Rubin, astronom perempuan kedua yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : Vassar

Di masa kini, astronom wanita sudah jauh lebih banyak walaupun masih sedikit dalam jumlah jika dibandingkan dengan astronom pria. Sebut saja Vera Rubin, wanita kedua yang mendapatkan medali emas dari Royal Astronomical Society setelah Caroline Herschel. Ia adalah astronom yang menjadi pioner dalam mempelajari laju rotasi galaksi. Ibu dari 4 anak ini pernah mendaftarkan dirinya ke Princeton untuk melanjutkan studi setelah menamatkan pendidikan sarjananya di Vassar College. Sayangnya pada masa itu, Princeton belum menerima mahasiswa pasca sarjana perempuan untuk menempuh pendidikan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Cornell University.

Selain Vera Rubin, ada juga Wendy Freedman yang lahir dari keluarga yang mencintai astronomi. Ia merupakan perempuan pertama yang bergabung sebagai staf sains permanen di Carneige Institutions. Ia kemudian menjabat sebagai direktur Carneige Observatory pada tahun 2003. Ketika diberi kesempatan menggunakan teleskop Hubble, Wendy dan timnya kemudian mencari konstanta Hubble yang lebih presisi dengan mengamati galaksi M100. Ia dan timnya berhasil mengidentifikasi 20 Cepheid untuk keperluan penghitungan konstanta Hubble setelah melakukan pengamatan pada 4000 bintang dalam 60 malam. ia juga memimpin timnya untuk membangun teleskop raksasa landas Bumi bernama Giant Magellan yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2018.

Catherine Cesarsky. Mantan Presiden IAU. Kredit : IYA2009Catherine Cesarsky. Mantan Presiden IAU. Kredit : IYA2009

Dan di sepanjang tahun astronomi 2009 ini, tak pelak ada satu nama yang akan selalu diingat orang. Catherine Cesarsky, mantan Presiden IAU (International Astronomical Union) yang baru saja menyelesaikan masa jabatannya pada bulan Agustus 2009 lalu. Catherine Cesarsky pada awalnya bekerja dalam hal perambatan dan percepatan sinar kosmik dan emisi sinar gamma galaktik. Ia kemudian memimpin perancangan dan pembangunan ISOCAM kamera onboard pada Infrared Space Observatory (ISO) di ESA. Ibu dua anak ini pernah menjadi Direktur ESO (European Southern Observatory) dari tahun 1999 – 2007 dan menjabat sebagai presiden IAU dari tahun 2006-2009.

Di akhir masa jabatannya Catherine Cesarksy memang membawa astronomi turun ke masyarakat melalui pencanangan Tahun Astonomi 2009.  Tahun yang menjadi pergerakkan awal maupun pemicu bagi perkembangan astronomi di masa mendatang dan pembangunan astronomi di negara-negara berkembang. Di antara berbagai program yang dicanangkan dalam tahun astronomi 2009, ada sebuah program yang dikhususkan untuk memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan dan meningkatkan minat kaum perempuan untuk mendalami sains dan astronomi. Program itu adalah She is an Astronomer.

Perempuan masa kini memang telah merambah dunia sains dan menjadi peneliti-peneliti handal yang membangun astronomi di semua sisi. Dan semua itu dimulai berabad-abad lampau oleh astronom-astronom wanita yang telah meletakkan dasar dan perubahan bagi perkembangan astronomi di masa kini.  Dasar itu memang telah diisi oleh bangunan-bangunan kokoh dan megah. Namun di sudut lain dunia ini.. masih ada dasar yang belum dibangun.

Seperti kata Cesarsky dalam pidatonya di penutupan IAU`s XXVII General Assembly 2009 di Brazil, “Poin penting dalam masa kepemimpinan saya adalah persiapan dan peluncuran Tahun Astronomi 2009. Tahun yang sudah berjalan dan sampai saat ini telah melampaui harapan yang dibuat dan menjadi pengalaman yang luar biasa yang tak dapat saya lupakan. Perencanaan baru untuk pengembangan astronomi merupakan kelanjutan untuk IYA2009. Tak bisa dielakkan perencanaan itu hanya bisa mencakup bagian kecil dari aktivitas IAU, namun pekerjaan kita untuk pembangunan dunia adalah hal yang vital.”

Dan pekerjaan serta perjuangan itupun masih akan berlanjut. Bukan hanya untuk membangun astronomi di dunia, namun juga untuk memberi kesempatan lebih banyak pada perempuan untuk terus berkiprah di dunia astronomi dan sains.

Tags: , , , , , ,

http://langitselatan.com/2009/09/06/potret-astronom-perempuan-dari-masa-ke-masa/

Astronomi, ilmu yang satu ini hampir setua peradaban manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, ia lahir bersama dengan kekaguman dan keingintahuan manusia akan langit dan apa yang ada di sana.
Kekaguman yang melahirkan pencarian. Tidak masalah apakah pencarian itu kemudian berbuah pada sebuah hasil yang saintifik ataukah ia hanya berhenti pada kaitan budaya dan kehidupan manusia. Kekaguman itulah yang membawa manusia pada kemajuan astronomi melintasi batas budaya dan kepercayaan, berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang membawa manusia menjelajah alam semesta yang mungkin di masa lampau tidaklah pernah terbayangkan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Peradaban Awal Astronomi di Indonesia

Hala Na Godang kisah tentang Orion dari Batak. Kredit : Nggieng

Berabad-abad lampau ketika peradaban baru dimulai, catatan dan cerita turun temurun dalam budaya masyarakat sudah menunjukkan berbagai kisah rakyat yang terkait astronomi. Cerita-cerita dari langit ini memberi interpretasi tersendiri akan obyek langit yang mereka lihat. Sebagai contoh ada kisah Bulan Pejeng (Bali), Pasaggangan’ Laggo Samba Sulu atau Pertempuran Matahari dan Bulan (Mentawai), Memecah Matahari (Papua), Manarmakeri (Papua), Hala Na Godang (Batak), Kilip dan Putri Bulan (Dayak Benoaq), Lawaendrona Manusia Bulan (Nias), Bima Sakti (Jawa), Mula Rilingé’na Sangiang Serri’ (Bugis), Batara Kala, Nini Anteh (Jawa Barat).

Penamaan rasi bintang berdasarkan nama lokal menunjukkan, masyarakat Indonesia di masa lampau juga melakukan pengamatan langit. Dalam budaya Jawa, dikenal Gubug Penceng (Salib Selatan), Lintang Wulanjar Ngirim (rasi Centaurus), Joko Belek, Lintang Banyak Angrem, Bintang Layang – Layang, Lintang Pari, Lintang Kartika (Pleiades), Wuluh (Pleaides), Kalapa Doyong (Scorpio), Sapi Gumarang (Taurus), adalah contoh penamaan rasi bintang secara lokal di Indonesia, yang sekaligus menandai kegiatan astronomi amatir di tengah masyarakat di masa lalu.

Setiap interpretasi tidak sekedar memberi akan benda-benda langit, baik itu bulan, bintang, matahari, rasi bintang, Bima Sakti, namun juga kisah tentang proses terjadinya alam semesta.  Benda-benda langit ini juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penentu waktu bercocok tanam, sarana pemujaan, kalender, maupun navigasi.

Kehidupan agraris masyarakat Indonesia juga menjadikan benda-benda langit sebagai petunjuk musim menanam dan musim panen. Di Jawa, rasi Lintang Kartika diasosiasikan juga sebagai tujuh bidadari, yang direpresentasikan dalam tarian Bedhaya Ketawang di Keraton Mataram. Di wilayah Pantai Utara Jawa rasi ini digunakan untuk menandakan waktu (kalender) dalam penanggalan Jawa. Jika rasi ini sudah terbit sekitar 50° di langit, maka musim ketujuh (mangsa kapitu) pun dimulai. Pada musim ini, beras muda harus mulai ditanam di sawah.

Saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka gejala alam adalah cerminan lintasan waktu. Masyarakat di masa itu juga menentukan saat menanam dengan menggunakan bambu yang diisi air untuk mengukur ketinggian bintang. Pada posisi tertentu mereka akan bisa mengetahui apakah sudah saatnya memulai bercocok tanam atau belum.

Sedangkan masyarakat Maritim Indonesia, menjadikan obyek langit sebagai panduan navigasi dalam pelayaran. Salah satu kisah yang diyakini merupakan bagian dari penggunaan langit sebagai navigasi adalah ditemukannya peninggalan berupa puisi dan gambar-gambar perjalanan masyarakat dari Indonesia menuju Afrika Selatan.

Di tahun 800 Masehi, pembangunan candi Borobudur menjadi penanda lainnya keberadaan astronomi di Indonesia. Borobudur yang dibangun oleh wangsa Syailendra diduga  merupakan penanda waktu raksasa di abad ke -8, dimana stupa utama candi berfungsi sebagai penanda waktu. Pembangunan candi seperti Borobudur memberi penegasan dan petunjuk kemampuan nenek moyang dalam astronomi.

Astronomi di masa Penjajahan

Observatorium yang didirikan Mohr di Batavia. (Architectural drawing by J. Clement, 1768)

Kecintaan masyarakat Indonesia pada langit memang disampaikan kemudian secara turun temurun lewat berbagai kisah. Dan pencatatan pengamatan pada masa lampau memang “belum ditemukan”. Akan tetapi catatan yang menjadi penanda awal kebangkitan astronomi dan penggunaan instrumentasi dalam pengamatan dimulai di tahun 1761.

Pada abad ke-18, masalah terbesar dalam astronomi adalah penentuan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari. Parameter astronomi yang satu ini merupakan konstantan fundamental dalam sistem heliosentris yang diajukan oleh Copernicus.  Pada tahun 1716, Edmund Halley (Inggris), muncul dengan metode penentuan paralaks matahari yang mengacu pada 2 kejadian astronomi yakni transit Venus di tahun 1761 dan 1769.  Dalam pemetaan yang diajukan,  kepulauan Malaya adalah tempat terbaik untuk melihat transit tersebut dalam durasi yang panjang dimulai dari ingress sampai egress.

Setelah melalui kisah panjang siapa yang akan mengamati transit tersebut, pada akhirnya Gerrit de Haan kepala departemen pemetaan di Batavia dan Pieter Jan Soele (Kapten Kapal VOC)  sebagai asisten mendatangi Johan Maurits Mohr  (18 August 1716, Eppingen – 25 October 1775 ) seorang pastor yang juga seorang penerjemah untuk menterjemahkan peta pengamatan okultasi Venus dari Delisle yang menggunakan Bahasa Prancis. Pada tanggal 6 Juni 1761, ketiganya pun melakukan pengamatan transit Venus dan menerbitkan hasil pengamatan tersebut di tahun 1763. Publikasi lainnya tentang pengamatan Gerrit de Han, Pieter Jan Soele yang dibantu Mohr diterbitkan pada tahun 2004 dalam prosiding IAU dengan judul Observations of the 1761 and 1769 transits of Venus from Batavia (Dutch East Indies)

Setelah pengamatan transit Venus tersebut Mohr mulai dikenal sebagai seorang “astronom”, dan  di tahun 1765, Pastor Mohr membangun sebuah observatorium pribadi di Batavia (Jakarta) dengan instrumen terbaik yang ada pada masanya, dan mulai melakukan pengamatan astronomi dan meteorologi.  Diyakini observatorium pribadi Mohr itu berada di Gang Torong.

Tanggal 3 Juni 1769 Mohr melakukan pengamatan transit Venus dan transit Merkurius pada tanggal 10 November 1769.  Dan di kisaran tahun 1770-an, kegiatan Mohr memberi inspirasi pada orang Eropa yang tinggal di Hindia Belanda untuk melakukan gerakan saintifik.  Observatorium Mohr juga pernah dikunjungi Kapten James Cook dan Louis Antoine de Bougainville. Catatan pengamatan transit Venus dan Merkurius di tahun 1769 dipublikasikan dalam tulisan Transitus Veneris & Mercurii in Eorum Exitu e Disco Solis, 4to Mensis Junii & 10mo Novembris, 1769 di Philosphcal Transactions pada 1 Januari 1771.

Observatorium Mohr dalam lukisan Johannes Rach 1770

Sayangnya observatorium Mohr tidak bertahan lama, hancur oleh gempa bumi dan tinggal puing-puing. Observatorium tersebut dihancurkan dan hanya tinggal nama di awal abad 19. Nama Mohr sendiri diabadikan sebagai nama planet kecil 5494 johanmohr yang ditemukan tahun 1933.

Observatorium Bosscha dan Pendidikan Astronomi di Indonesia

Observatorium Bosscha masa kini. kredit : ivie

Para pecinta langit ini juga punya kiprah yang cukup signifikan, karena di awal tahun 1920-an, Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging / NISV (Perhimpunan Astronom Hindia Belanda) yang merupakan gabungan intelektual astronom Belanda, ahli fisika mau pun para pecinta astronomi di Hindia Belanda, merasakan kebutuhan untuk mendirikan observatorium di Indonesia.

Observatorium ini bertujuan untuk menjadi garda depan pengamatan astronomi di langit selatan. Apalagi saat itu langit selatan memang belum dikenal karena hampir tidak ada pengamatan dilakukan di belahan selatan selain di Afrika Selatan.

Observatorium itulah  yang kemudian dikenal sebagai Bosscha Sterrenwacht atau Observatorium Bosscha yang dibangun dari tahun 1923 – 1928. Pendana utama dari Observatorium Bosscha juga berasal dari kalangan pemerhati astronomi yakni seorang tuan tanah di Malabar bernama Karel Albert Rudolph Bosscha dan seorang pengusaha bernama Ursone. Keduanya kemudian menyerahkan hak kepemilikan tanah mereka kepada NISV.

Selain penyandang dana utama K A R Bosscha juga menyediakan teleskop refraktor ganda Zeiss dan teleskop refraktor Bamberg.  Sebagai penghargaan nama Karel Bosscha diabadikan sebagai salah satu nama planetoid yakni (11431) Karelbosscha yang berada di antara Mars dan Jupiter dan ditemukan tahun 1971.

Setelah Bosscha didirikan, Dr. Joan Voûte kemudian menjadi direktur pertama di Observatorium tersebut. Voute dilahirkan di Madioen ini merupakan lulusan sipil di Delft yang kemudian karena kecintaannya pada astronomi justru mengabdikan hidupnya di astronomi dan melakukan berbagai pengamatan sebagai astronom profesional.  Voute sebelumnya bekerja di Observatorium Cape berhasil menghitung jarak Proxima Centauri sama dengan Alpha Centauri di tahun 1913. Pada tahun 1919, Voute kemudian diminta ke Indonesia untuk menjadi kepala Observatorium Bosscha yang pertama.

Bosscha Sterrenwacht. Kredit : Tropenmuseum

Pada masa berkecamuknya Perang Dunia II kegiatan observasi di Bosscha sempat dihentikan dan tidak hanya itu, akibat dari perang menyebabkan hancurnya sebagian fasilitas Observatorium.  Di tahun 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bosscha kepada pemerintah RI, yang kemudian menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1959 setelah ITB didirikan.

Tahun 1951,  juga menjadi tonggak berdirinya pendidikan astronomi secara resmi di Indonesia yang ditandai dengan dikukuhkannya G.B. van Albada sebagai Guru Besar Astronomi. Dan pendidikan Astronomi di Indonesia juga sampai saat ini masih bernaung di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung.

Selain Observatorium Bosscha dan Astronomi ITB, pada tanggal 31 Mei 1962 dibentuk juga Panitia Astronautika dan kemudian pada tanggal 27 november 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963.  LAPAN dalam perkembangannya bergerak dalam hal teknologi kedirgantaraan juga untuk pemanfaatan sains atmosfer, iklim dan antariksa.

Akhir tahun 2008, Observatorium Hilal dan Astronomi di Aceh yang dikelola oleh Badan hisab Rukyat selesai dibangun dan berfungsi sebagai situs pengamatan hilal di kawasan ujung barat Indonesia. Selain hilal, observatorium ini bertujuan untuk pengamatan ilmiah astronomi untuk kalangan pelajar dan mahasiswa serta berfungsi dalam hal pendidikan astronomi masyarakat Aceh.

Komunitas Astronomi dan Indonesia Masa Kini

Planetarium & Observatorium Jakarta. Kredit : Pramesti

Perkembangan pengenalan astronomi di Indonesia ternyata lebih banyak diberikan dalam pendidikan kepanduan atau Pramuka. Pengenalan rasi bintang dan navigasi langit menjadi point penting yang membawa siswa untuk mengenal lebih dekat langit dan isinya.

Di Indonesia, kelompok amatir yang menjadi wadah para pecinta astronomi memang belum ada sampai dengan era 80-an. Namun di era 1960-an, diyakini Santoso Nitisastro dari Observatorium Bosscha dan yang kemudian menjadi kepala Planetarium Jakarta pernah membuat kelompok untuk penyuka astronomi di Jakarta.

Tahun 1968 Planetarium Jakarta diresmikan dan menjadi mercusuar pengenalan astronomi kepada publik di ibukota negara Indonesia. Di tahun 2002 planetarium lainnya di Tenggarong dengan nama Planetarium Jagat Raya Tenggarong dibuka di Tenggarong Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Di tahun 1977, dibentuklah Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), tujuannya adalah untuk menampung keinginan astronomi di Indonesia termasuk di dalamnya astronom amatir sekaligus mendorong pengamatan astronomi oleh masyarakat. Dan untuk merealisasikan hal tersebut, sekretaris pertama HAI adalah seorang wartawan Pikiran Rakyat yang juga penyuka astronomi. Hal ini dimaksutkan agar informasi astronomi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.  Keberadaan HAI juga menjadi kunci penting diterimanya Indonesia di IAU.

Di tahun 1983 saat  fenomena gerhana matahari total melewati Indonesia, terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap astronomi. Kala itu, Planetarium Jakarta mengadakan pengamatan Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 dan dalam persiapannya ada salah satu anggota Pramuka yang sering ikut serta bernama Kak Har.  Dan ternyata setelah pengamatan GMT berakhir, Kak Har dkk masih sering berkumpul dengan Pak Darsa untuk membicarakan persiapan pengamatan komet Halley di tahun 1985 / 1986. Maka akhirnya dibentuklah Himpunan Astronomi Amatir Jakarta di tahun 1984. HAAJ kemudian berkiprah untuk menampung para pecinta astronomi di Jakarta dan sekitarnya, serta melakukan pengamatan publik di sekolah-sekolah. Di Tahun 1989 HAAJ sempat vakum dan setelah Widya Sawitar masuk ke Planetarium Jakarta di tahun 1992, pada tahun 1994 HAAJ memulai kembali kegiatannya. Di tahun 2010, HAAJ kehilangan salah seorang motor penggeraknya yang juga mantan ketua HAAJ yakni Tersia Marsiano yang meninggal tanggal 6 Desember 2010.

Sampai hari ini terhitung HAAJ adalah kelompok astronomi amatir paling aktif yang ada di Indonesia. HAAJ juga membina kelompok KIR di sekolah-sekolah seperti FOSCA (Forum Of SCientist teenAgers),  Kastro Sirius (SMAN 89), Kastro Polaris (SMAN 38), Kastro Lunar (SMAN 3 Bogor), KIR Orbit (SMAN 1 Bogor), Forum Pelajar Astronomi (FPA). Kelompok pecinta astronomi juga berkembang secara mandiri di sekolah-sekolah seperti di Sekolah Madania Bogor ataupun di SMA Negeri 1 Subang dll.

Di era-90an, mahasiswa Astronomi ITB sempat membentuk beberapa kelompok pecinta astronomi untuk mewadahi penggemar langit ini di Bandung seperti misalnya HAAB dan Zenith  yang kemudian non aktif sampai saat ini. Di luar astronomi ITB, kelompok mahasiswa Fisika UPI juga membentuk himpunan pecinta astronomi bernama Cakrawala.

Di Indonesia saat ini selain kelompok astronomi yang sudah disebutkan masih ada beberapa klub astronomi di daerah yang berbasiskan klub daerah ataupun dari sekolah. Seperti halnya JAC dan CASA di Jogjakarta dan Solo yang aktif melakukan pengamatan untuk keperluan hilal maupun populerisasi di masyarakat. Selain itu ada juga Atjeh Astro Club yang terbentuk setelah observatorium Hilal di Aceh dibangun untuk keperluan pengamatan hilal di ujung barat Indonesia.  Di Jawa Timur, beberapa anggota HAAJ juga merintis terbentuknya Asosiasi Astronomi Surabaya sedangkan  para guru pembina astronomi di Bandung membentuk Forum Pembina Astronomi (FPA) yang bertujuan untuk berbagi ilmu pengetahuan dalam hal astronomi sebagai bahan ajar di sekolah.

Di dunia maya, kegiatan memperkenalkan astronomi dimulai oleh mailing list Astronomi Indonesia di tahun 2001 yang sampai saat ini sudah memiliki 984 peserta. Di tahun 2005, alumni astronomi yang juga ingin berbagi ilmu astronomi kepada pecinta astronomi di Indonesia mencoba membuat majalah astronomi namun sayangnya tidak berhasil.

Di tahun 2007, para penggagas majalah astronomi ini kemudian membangun langitselatan sebagai media edukasi dan informasi astronomi pada masyarakat. Media tersebut kemudian berkembang sebagai komunitas dunia maya yang juga melakukan berbagai kegiatan publik dan terlibat aktif sebagai kontak bagi beberapa komunitas astronom amatir di dunia seperti Astronomer Without Border dan Sidewalk Astronomer.

Perkembangan astronom amatir dalam berkiprah di dunia astronomi tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun hanya sebagai hobi, para astronom amatir ini bisa juga memberi kontribusi dalam berbagai penemuan maupun kontribusi profesional layaknya profesional astronomi. Selain bagi pecinta astronomi yang membutuhkan wadah, kegiatan astronomi bagi siswa dan guru juga punya wadah tersendiri yakni di Global Hands on Universe dan Galileo Teacher Training Program yang bertujuan untuk memberika edukasi dasar bagi para guru mengenai astronomi dan alat-alat yang dipergunakan agar dapat diajarkan kepada siswa untuk kemudian dikembangkan sendiri maupun berkontribusi dalam penelitian sederhana.

Di masa depan, perkembangan astronomi di Indonesia akan membutuhkan kerjasama aktif antara astronom profesional dan astronom amatir untuk menghasilkan hasil ilmiah sekaligus edukasi aktif pada masyarakat.

Tags: , , , , , , , , , , ,

http://langitselatan.com/2011/01/02/jejak-langkah-astronomi-di-indonesia/

Cabang-cabang astronomi

Posted: March 14, 2011 in Astr0n0miku

Astronomy dipisahkan ke dalam cabang. Perbedaan pertama di antara ‘teoretis dan observational’ astronomi. Pengamat menggunakan berbagai jenis alat untuk mendapatkan data tentang gejala, data yang kemudian dipergunakan oleh teoretikus untuk ‘membuat’ teori dan model, menerangkan pengamatan dan memperkirakan yang baru.

Bidang yang dipelajari juga dikategorikan menjadi dua cara yang berbeda: dengan ‘subyek’, biasanya menurut daerah angkasa (misalnya Astronomi Galaksi) atau ‘masalah’ (seperti pembentukan bintang atau kosmologi); atau dari cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (pada hakekatnya, daerah di mana spektrum elektromagnetik dipakai). Pembagian pertama bisa diterapkan kepada baik pengamat maupun teoretikus, tetapi pembagian kedua ini hanya berlaku bagi pengamat (dengan tak sempurna), selama teoretikus mencoba menggunakan informasi yang ada, di semua panjang gelombang, dan pengamat sering mengamati di lebih dari satu daerah spektrum

* Astrometri: penelitian posisi benda di langit dan perubahan posisi mereka. Mendefinisikan sistem koordinat yang dipakai dan kinematika dari benda-benda di galaksi kita.
* Kosmologi: penelitian alam semesta sebagai seluruh dan evolusinya.
* Fisika galaksi: penelitian struktur dan bagian galaksi kita dan galaksi lain.
* Astronomi ekstragalaksi: penelitian benda (sebagian besar galaksi) di luar galaksi kita.
* Pembentukan galaksi dan evolusi: penelitian pembentukan galaksi, dan evolusi mereka.
* Ilmu planet: penelitian planet dan tata surya.
* Fisika bintang: penelitian struktur bintang.
* Evolusi bintang: penelitian evolusi bintang dari pembentukan mereka sampai akhir mereka sebagai bintang sisa.
* Pembentukan bintang: penelitian kondisi dan proses yang menyebabkan pembentukan bintang di dalam awan gas, dan proses pembentukan itu sendiri.

http://ihu4ever.blogspot.com/2008/05/cabang-cabang-astronomi.html

fungsi ASTRONOMI

Posted: March 14, 2011 in Astr0n0miku

Apa manfaat ilmu astronomi dalam kehidupan sehari-hari?

1. Utama-nya secara pragmatis adalah penentuan/perhitungan almanak. Penentuan/perhitungan ini bagi sosio kultur tertentu, kadang2 sangat sensitif.
Misalnya dalam Islam: penentuan tanggal 1 bulan Ramadhan dan penentuan tanggal 1 bulan syawal. Yang mana dalam almanak Islam, memakai peredaran bulan sebagai basis perhitungannya.

Ada dua versi yaitu rukyat dan hisab. Pada prinsipnya rukyat juga memakai hisab (perhitungan astronomi). Sebetulnya dari berbagai versi perhitungan yg ada, tetap berdasarkan kapan hilal (bulan muda) muncul. Hal ini dapat disatukan pendapatnya, (kalau disepakati):
“Berapa derajat hilal akan kelihatan secara optis”.
Sehingga perbedaan hari raya lebaran tidak perlu terjadi.

2. Perhitungan/Patokan Arah bagi para nelayan tradisional yang tidak mampu membeli peralatan navigasi yang canggih. Dipakai terutama pada malam hari, dengan berpatokan pada rasi2 bintang.

3. Perhitungan kapan terjadinya pasang surut air laut.

4. Perhitungan musim tanam para petani. Di kalangan petani Jawa dikenal dengan istilah “petungan mongso”.

5. Untuk tujuan yang lebih canggih, misalnya perhitungan manuver wahana antariksa untuk keperluan penelitian, misalnya pada voyager milik USA.
Untuk bermanuver, harus dihitung kapan voyager bisa memasuki track/lintasan di sekitar sebuah planet, sehingga efek lontaran ketapel bisa dicapai untuk menuju ke lintasan tujuan berikutnya. Untuk keperluan seperti ini semua data2 lengkap astronomi mutlak diperlukan, seperti massa planet, radius planet, lintasan planet terhadap matahari, dsb
.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090123043900AA2VxdJ

2.1 Manfaat ilmu Astronomi

Dalam hal ini, saya akan menekankan pada manfaat astronomi dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan forecasting atau ramalan, baik itu peristiwa atau gejala alam. Beberapa manfaat Ilmu Astronomi antara lain :
1. Manusia jadi mengetahui pergerakan, penyebaran, dan karakteristik benda-benda langit.
2. Manusia dapat menentukan waktu dengan berpatokan pada matahari atau bulan.
3. Membantu manusia untuk menentukan arah mata angin.
4. Petunjuk fenomena alam (kejadian-kejadian alam) di bumi.
5. Prediksi cuaca. Dalam kehidupan sehari-hari mempelajari astronomi dapat berguna untuk memprediksikan cuaca. Penerbangan dan pelayaran, misalnya. Harus dilaksanakan dalam cuaca yang mendukung
6. Ramalan. Rasi bintang dan pergerakannya dapat diterjemahkan oleh ahli nujum dalam bentuk perkiraan-perkiraan yang tidak eksak.

2.2 Kehidupan Sehari-Hari

Pada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dunia Muggle, ilmu astronomi kerap menggunakannya sebagai penentu masa panen, dan untuk pelayaran sebagai petujuk arah. Seperti bintang Orion yang adalah sebagai penanda mulainya masa tanam bagi para petani. Juga bintang Salib (layang-layang) sebagai penunjuk arah selatan, dan bintang Beruang Besar (atau Gayung besar) sebagai penunjuk arah Utara. Para pelaut hingga kini juga masih menggunakan bintang sebagai pemandu arah dan juga untuk menentukan posisi kapalnya, alat yang digunakan pelaut dalam mengamati bintang tersebut adalah sextant. Berikut beberapa bintang dalam menandai datangnya suatu peristiwa dan hal-hal yang dapat dilakukan :

#Virgo – Perawan
Rasi zodiak yang terletak di daerah khatulistiwa langit. Matahari melewatinya dari pertengahan september hingga awal Nopember. Bintangnya yang paling terang adalah Spica. Ia adalah sebuah sistem bintang ganda beranggotakan dua bintang yang saling mengorbit dalam periode sekitar 4 hari. Bintang dengan magnitudo sebesar 1 ini terletak sejauh 260 tahun cahaya dari Bumi. Namanya berasal dari bahasa latin yang artinya “pucuk gandum”. Spica biasanya terlihat sebagai sebuah bintang yang kelihatan menonjol di arah tenggara saat musim semi di belahan bumi utara. Lalu saat Matahari melintasi Spica setiap musim gugur maka menandai saat masa panen gandum.

# Pisces – Ikan
Suatu rasi zodiak, terletak di daerah khatulistiwa langit. Matahari melewati rasi ini dari pertengahan Maret hingga pertengahan April. Matahari berada di Pisces ketika ia bergerak ke utara melintas khatulistiwa langit, menandai awal musim semi Belahan Utara (ekuinoks semi).

# Ursa Mayor – Beruang Besar

Sebuah rasi menonjol langit Belahan Utara. Ketujuh bintangnya yang paling terang bersusun berbentuk gayung, sering disebut sebagai bajak. Dua bintang gayung menunjuk ke Polaris. Bintang kedua di gagangnya dinamakan Mizar, mempunyai pasangan samar dinamai Alkor, tampak dalam pengelihatan tajam atau melalui teropong. Banyak dikenal di Amerika Utara sebagai penanda masa panen.

2.3 Forecasting – Peristiwa besar

Kemunculan sebuah komet dipercaya sebagai suatu pertanda akan datangnya sebuah malapetaka besar. Penampakan sebuah komet dan sesekali pula pergerakannya dicatat secara akurat. Astronom Babylonia dan China mempercayai bahwa komet adalah objek yang beredar di angkasa sebagaimana halnya planet. Bangsa Yunani beranggapan bahwa komet adalah fenomena atmosfir, sejenis dengan uap air yang berasal dari permukaan Bumi. Pandangan ini sempat diterima secara meluas hingga di abad XVI, saat Tycho Brahe memaparkan pandangannya bahwa komet tidak hanya sebuah fenomena alam, tetapi diyakini sebagai sebuah benda angkasa yang letaknya dari bumi lebih jauh daripada Bulan

2.4 Forecasting – Sifat Umum Manusia

Dalam ilmu Atrologi diyakini pergerakan bintang berpengaruh pada nasib manusia sehari-hari. Sejalan dengan Ilmu ramalan rasi bintang menentukan sifat dasar mereka, peruntungan, karir, jodoh, dan hal-hal serta mitos yang berkaitan dengan rasi bintang sesuai tanggal kelahiran. Dari banyak rasi bintang yang ada, terdapat 12 rasi yang dikenal dengan nama ZODIAK. Zodiak ini dikenal oleh bangsa Babilonia sejak abad 2000 SM. Dari zodiak inilah selanjutnya kita mengenal pembagian nama bintang berdasarkan kelahirannya. Dua belas rasi tersebut, adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Dan hal ini juga dikaitkan dengan kepercayaan bahwa bintang-bintang itu memberi pengaruh kepada kehidupan manusianya.
http://www.lautanindonesia.com/blog/topisd/blog/8539/astronomi–menembus-ruang-dan-waktu